Pengaruh Daya Tarik Iklan dan Frekuensi Penayangan Iklan Terhadap Efektivitas Iklan

Di kesempatan ini, saya akan berbagi materi skripsi saya tentang “Pengaruh Daya Tarik Iklan dan Frekuensi Penayangan Iklan Terhadap Efektivitas Iklan.” Skripsi ini selesai saya tulis pada Januari 2013.

  1. Latar Belakang

Persaingan industri susu di Indonesia saat ini mulai gencar dengan banyaknya produsen susu dari dalam maupun luar negeri yang memasarkan produknya ke seluruh nusantara. Berdasarkan berita dari kompas.com (22 Mei 2012), sebanyak 74 persen kebutuhan susu tanah air masih bergantung pada pasokan susu impor. Selain itu, susu juga masih menjadi barang mewah. Tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia paling rendah di kawasan Asia, yaitu 11,09 liter per kapita per tahun, di bawah Malaysia dan Filipina yang mencapai 22,1 liter per kapita per tahun, Thailand sebanyak 33,7 liter per kapita per tahun, dan Vietnam mencapai 12,1 liter per kapita per tahun. Sementara itu India sudah mencapai 42,08 liter per kapita per tahun.

Produsen susu asing masih dominan menguasai pasar di Indonesia. Menurut data Nielsen, produsen susu bubuk asing menguasai sekitar 87% pasar Indonesia hingga kuartal I 2011. Berdasarkan target konsumennya, pasar susu di Indonesia diklasifikasikan menjadi susu kelas premium dan kelas biasa. Nestle Indonesia tercatat menjadi pemimpin pasar susu kelas biasa dan Sari Husada (anak usaha Danone Group) menjadi penguasa pasar kedua. Frisian Flag Indonesia juga menjadi pemain utama yang bersaing dengan Nestle dan Sari Husada di kategori susu kelas biasa. Untuk susu kelas premium, sejumlah merek susu bubuk yang diproduksi perusahaan multinasional, seperti Fonterra, Abbot, Wyeth, Mead Johnson, dan Nutricia (Danone Group) bersaing ketat.

Pasar susu tulang di Indonesia yang diciptakan sempat memicu persaingan hebat, menurut data Marketing Research Indonesia (MRI), di awal tahun 2000-an nilai pasar produk itu di Indonesia mencapai Rp3,5 triliun. Pada tahun 2006 pangsa pasar susu berkalsium tinggi masih sekitar 5% – 7% dari total pasar susu bubuk yang ada di Indonesia. Hasil ini merupakan potensi yang sangat besar untuk kedepannya dan akan terus bertambah seiring edukasi dari para pemain yang ada di industri susu berkalsium tinggi. Edukasi tersebut senantiasa dimunculkan oleh produsen melalui kegiatan komunikasi pemasaran, terutama dalam bentuk iklan.

Perusahaan memerlukan biaya untuk memproduksi iklan di berbagai media. Menurut data Nielsen’s Advertising Information Services pada kuartal pertama tahun 2011 pebelanja iklan paling besar adalah perusahaan telekomunikasi, yang menghabiskan Rp 1,2 triliun untuk beriklan. Produk dengan belanja iklan terbesar kedua setelah telekomunikasi adalah produk susu. Produsen susu tercatat mengalami pertumbuhan belanja iklan paling pesat hingga mencapai 98% dari Rp215 miliar pada kuartal I/2010 menjadi Rp497 miliar pada kuartal I/2011.

Berbagai merek susu berkalsium tinggi berlomba-lomba menampilkan manfaat produk dan memberikan kampanye kesehatan tulang dalam iklannya. Dengan dana yang tidak sedikit para pemasar mencoba menarik perhatian khalayak dengan kualitas produk yang dimiliki. Tidak hanya menonjolkan kualitas produk, bahkan beberapa perusahaan juga menyisipkan anjuran kesehatan dan pencegahan penyakit tulang. Susu berkalsium tinggi merupakan ceruk pasar bagi industri susu yang memerlukan komunikasi pemasaran dengan intesitas yang tinggi kepada masyarakat agar produknya dapat diterima dan mendorong tindakan positif dari target pasar.

Semakin banyak persaingan di dalam industri maka perusahaan akan merancang strategi yang terbaik untuk melayani pasar sasaran demi meningkatkan penjualan produknya. Komunikasi pemasaran dibutuhkan oleh pemasar untuk bersaing di dalam suatu industri. Bentuk komunikasi yang dirancang pemasar akan menentukan sikap dari calon konsumen atas produk yang dipasarkan. Menurut ­­­Kotler dan Keller (2009) bauran komunikasi pemasaran terdiri atas periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, acara dan pengalaman, pemasaran langsung, pemasaran interaktif, pemasaran dari mulut ke mulut, dan penjualan pribadi. Iklan merupakan bauran komunikasi yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk memperkenalkan produknya kepada calon konsumen.

Menurut Dharmmesta dalam Sapto (2004) program periklanan mempunyai 5 (lima) fungsi yaitu memberikan informasi, membujuk dan mempengaruhi, menciptakan kesan atau image, memuaskan keinginan, dan merupakan alat komunikasi. Iklan harus dibuat sedemikian rupa agar dapat menarik minat khayalak, orisinil serta memiliki karakteristik tertentu dan persuasive sehingga para konsumen atau khayalak secara suka rela terdorong untuk melakukan tindakan sesuai yang diinginkan pengiklan (Jeffkins dalam Pujiyanto, 2003).

Iklan juga membutuhkan saluran komunikasi yang tepat agar mengena pada target pasar dan mendorong perilaku positif mereka yang bermanfaat bagi perusahaan. Salah satu saluran komunikasi yang saat ini mempunyai keunggulan kompetitif dan bahkan mampu menggeser peran media massa lainnya dalam meraih di bidang iklan adalah televisi (Sumartono, 2002).

Selanjutnya klik di sini!

Semoga apa yang saya bagikan dapat bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s