Traveling Kop ke Stadion Gelora Bung Karno

Sebelum lebih jauh bercerita, aku akan sedikit menjelaskan apa itu “Traveling Kop”. Traveling Kop adalah sebutan bagi supporter Liverpool yang melakukan perjalanan untuk datang ke kota di mana Liverpool FC bermain. Kata “Kop” diambil dari nama tribun yang ada di Anfield (Stadion Liverpool), tempat paling riuh di Anfield karena berisi para supporter atau biasa disebut Kopites yang memberikan dukungan secara militan.

Kabar Kedatangan Liverpool FC

Kabar kedatangan LFC ke Indonesia sudah santer terdengar sebelumnya, hingga foto Skrtel yang memegang bendera sang dwi warna, Merah Putih beredar luas di social media, maka bisa dipastikan LFC bakal menyambangi Indonesia. Sejak itulah aku menyusun plan untuk melakukan Traveling Kop ke GBK. Awalnya aku mengajak dua orang kawan, tapi yang bersedia ikut cuma satu orang. Maunya berangkat bareng rombongan BIGREDS (pendukung resmi Liverpool di Indonesia) Surabaya, tapi waktu itu mereka belum memperbolehkan rombongan di luar BIGREDS untuk bergabung, alhasil temanku yang belum jadi member tidak bisa ikut rombongan. Aku segera menyusun rencana untuk berangkat berdua menggunakan kereta api.

Martin-Skrtel-dengan-bendera-Indonesia

Hari penjualan tiket telah dibuka, kabar yang mengejutkan temanku tidak jadi ikut untuk nonton LFC tanding. Sempat bingung mau rubah plan berangkat bareng rombongan BIGREDS Surabaya atau tetap sendiri. Akhirnya aku putuskan untuk berangkat sendiri. Minggu pertama penjualan tiket umum, aku meluncur pagi-pagi ke Bank Standard Chartered yang ada di daerah Basuki Rahmad. Hasil yang didapat nihil, karena harus mempunyai kartu kredit bank tersebut untuk membeli tiketnya. Sebelumnya juga sudah coba ke outlet MyTicket di Kertajaya & Grand City Mall tapi outlet tersebut sudah tidak beroperasi lagi.

Setelah dari StandChart, langsung ke Stasiun Pasar Turi untuk pesan tiket kereta tujuan Jakarta PP, walaupun tiket tanding LFC belum ditangan tapi aku pastikan tiket kereta sudah didapat. Pulang dari sana, aku chating dengan kawanku yang domisili di Jakarta, Aldy. Beruntung, dia mau membantu aku untuk membelikan tiket lewat outlet yang ada di Jakarta. Segera aku transfer uang ke rekeningnya, selang beberapa hari, dia menunjukkan foto tiket yang sudah dibelinya, “Aman!” batinku. Hehe…..

tiket LFC

Keberangkatan ke GBK

Singkat cerita sekitar dua bulan berselang, waktu yang ditunggu itupun datang menyapa. Persiapan sudah final, tinggal berangkat. Aku menuju Stasiun Pasar Turi setelah Sholat Jumat (19/7), Kereta Kertajaya sesuai jadwal berangkat tepat jam 3 sore. Slogan LFC “You’ll Never Walk Alone” ternyata terbukti, walau aku berangkat sendirian, tapi dalam gerbong kereta tidak hanya aku seorang yang berencana nonton pertandingan Liverpool.

Saat melewati daerah Cepu, aku dan penumpang lainnya berkesempatan untuk buka puasa. Setibanya di Semarang, kereta berhenti agak lama, aku ambil kesempatan untuk turun dan menelepon tempat penginapan yang ada di Jakarta. Ternyata di daerah Kebon Kacang, Tanah Abang masih ada kamar yang kosong. Cukup lega, aku kembali ke dalam kereta dan melanjutkan perjalanan.

Tiba di Stasiun Senen, Jakarta sekitar jam 4 subuh (20/7), molor satu jam dari jadwal yang tercetak di tiket. Rencana mau nambah makan buat sahur di stasiun akhirnya batal karena mendekati subuh. Langsung bergegas naik ojek ke daerah Kebon Kacang, jalanan sangat sepi untuk dilalui sampai-sampai tukang ojek memberanikan diri untuk lawan arus. Tepat adzan Subuh, aku sudah berada di kamar penginapan, mandi sebentar terus sholat kemudian tidur buat jaga kondisi nanti sore.

Bangun sekitar jam 11 siang langsung mandi setelah itu sholat Dzuhur. Jam 1 siang aku mulai berangkat ke Stadion GBK menggunakan Trans Jakarta, naik dari halte Bunderan HI. Sekali lagi, I’m Never Walk Alone! Saat menunggu bis, juga ada 2 orang yang mau berangkat ke GBK. Saat menunggu itu, aku juga melihat mobil putih dengan motif Liverbird serta tulisan “You’ll Never Walk Alone” dan “Liverpool” melewati Wisma Nusantara.

Bis yang ditunggu pun datang, segera aku masuk menerobos sesaknya barisan penumpang yang berdiri. Tidak begitu lama sampailah ke Halte GBK, berjalan ke seberang dan masuk gerbang menuju ring road stadion. Jam pada saat itu menunjukkan pukul 2 siang. Sambil menunggu datangnya Aldy yang membawa tiket, aku berkeliling sebentar hingga akhirnya meneduh di depan sektor 18.

Cuaca yang semula panas, kemudian berubah menjadi mendung pekat. Hujan mulai datang sekitar jam 4 sore, aku pun mendekat ke gerbang masuk sektor itu untuk meneduh bareng penonton yang lainnya, waktu itu gerbang belum dibuka. Menginjak jam 5 sore Aldy menelpon untuk janjian ambil tiket. Sempat bingung saling cari, akhirnya ketemu juga di depan pintu 4. Aldy menyerahkan tiket dan mengajak berkumpul sebentar menunggu yang lainnya.

Waktu berbuka puasa datang dan hujan pun mulai reda, pintu masuk sudah dibuka sejak jam 5 sore. Aldy dan kawan-kawannya memutuskan untuk masuk terlebih dahulu dan berbuka di dalam stadion. Sedangkan aku berbuka di foodcourt dekat pintu 1 karena aku cuma bawa bekal minum saja. Aku makan nasi soto, selesai itu aku beli hotdog biar ada tenaga lebih buat dukung LFC dan skuad Indonesia XI. Alhamdulillah dikasih lapar, hotdog yang segede itu abis tanpa sisa, haha….

Selesai urusan mengisi perut, maka aku bergegas masuk ke pintu 4 GBK yang waktu itu sudah tak tampak antrian panjang. Saat pemeriksaan tiket, tiba-tiba tiket yang aku pegang tidak bisa terbaca barcode-nya. Bingung tak karuan, pikiran sudah kemana-mana, sempat ditanya petugas tiket tentang asal-usul tiket itu. Lega juga, akhirnya aku pun disuruh masuk ke tribun, tapi saat aku minta sobekan tiketnya dia tidak mau kasih. Yasudah, tanpa membuat urusan makin panjang, aku mendaki tangga menuju tribun kategori 5 stadion GBK.

Show Time

Ini merupakan sejarah bagiku, karena pertama kalinya aku nonton pertandingan di stadion terbesar di Indonesia serta nonton secara langsung pertandingan Liverpool. Aku duduk di sektor sebelah BIGREDS, sedangkan Aldy dan kawan-kawannya di sektor yang berbeda. Waktu menunjukkan 2 jam sebelum kick off, tapi Liverpudlian yang hadir di GBK malam itu terus menyanyikan chant (yel-yel) dukungan buat LFC dan Indonesia XI.

Ada kejadian menarik saat beberapa orang memainkan trompet, orang itu akan ditegur beramai-ramai satu stadion, karena Liverpudlian yang hadir malam itu ingin menciptakan nuansa layaknya di Anfield yang riuh hanya dengan nyanyian tanpa trompet. Ada orang yang menyalaka flare, saat itu juga disuruh matikan beramai-ramai satu stadion. Nyanyian Grauda di Dadaku, Indonesia Tanah Pusaka, Garuda Pancasila sempat menemani skuad Indonesia XI pemanasan sebelum kick off.

Kick off pun dimulai, penonton mulai menyayikan lagu Indonesia Raya dan You’ll Never Walk Alone, bebarengan dengan itu ada orang yang menyalakan flare merah, alhasil suara terpecah buat suruh matikan flare itu, tapi apa boleh buat, dia tetap mbalela dan aksi itu pun memantik puluhan flare lainnya untuk dihidupkan, tak terkecuali orang di belakang ku persis yang juga menyalakan flare.

Selama pertandingan kedua kesebelasan tampil cukup mengesankan, terutama Indonesia XI yang tampil lebih solid dibandingkan waktu lawan Arseal kemarin. Aksi mozaik berbentuk tulisan “JFT96” untuk mengenang tragedi Hillsborough yang ditampilkan BIGREDS cukup menarik perhatian. Chant dari 80 ribu lebih Liverpudlian tidak berhenti selama pertandingan, bahkan saat istirahat turun minum dan setelah pertandingan usai. Beragam apresiasi positif diberikan kepada Liverpudlian yang hadir malam itu karena mampu menciptakan atmosfir yang luar biasa. *Klik link ini untuk melihat kumpulan foto LFC Tour 2013 di Jakarta.

Welo&AldyLFC

Saatnya Pulang

Dua jam lebih berlalu di dalam stadion, pertandingan usai dan saatnya pulang. Aku, Aldy,& kawan-kawannya janjian berkumpul di tempat kumpul kita tadi. Aku balik ke penginapan dengan menumpang mobil kawannya Aldy sampai Bunderan HI. Kemudian aku jalan kaki sebentar ke Sarinah beli makan buat sahur. Setelah selesai semuanya aku baru tidur dan bangun sekitar jam 10 siang (21/7). Kemudian mandi dan mulai berangkat ke Stasiun Senen pakai Bajaj, sampai di sana jam 11.30 siang.

Aku ada janji juga dengan kawanku yang lain, Upidz, untuk menyerahkan sumbangan dari kawan-kawan di Surabaya ke Panti Asuhan lewat dia. Kemudian waktu menunjukkan pukul 1 siang, aku pun masuk ke stasiun dengan sebelumnya membeli bekal di minimarket sekitar peron untuk buka dan sahur nanti di dalam kereta. Cuaca saat itu hujan lebat, kereta datang jam 2 siang kemudian berangkat meninggalkan Jakarta dengan banyak kenangan yang tak terlupakan.

*review dari Bolatotal:

2 thoughts on “Traveling Kop ke Stadion Gelora Bung Karno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s