Perjalanan di Balik Tribute to Green Day di Sumenep

Sabtu itu tanggal 22 Juni 2013, 5 pemuda dan 1 pemudi berkumpul di Taman Bungkul, Surabaya.Rencana sebelumnya kumpul pagi hari jam 10 kemudian diundur sampai jam 1 siang atau selepas Dzuhur. Siang itu Surabaya diliputi mendung tebal, aku berboncengan dengan Fadly sempat kehujanan untuk kumpul di Taman Bungkul. Dua orang datang bergantian menggunakan sepeda motor hingga akhirnya kita semua berangkat sekitar jam 2 siang menuju Sumenep untuk memenuhi ajakan bermain di gelaran Tribute to Green Day yang diadakan Pop Disaster Commite.

Total ada 3 sepeda motor yang melaju cukup kencang untuk menghindari hujan yang masih berada di belakang, sekencang apapun akhirnya terjebak juga di kepadatan lalu lintas Jalan Gembong sampai Rangkah. Masuk ke Jalan Kenjeran kita kembali ngebut untuk mengejar waktu agar tidak terlalu mepet sampai di Sumenep. Kita melewati jembatan terpanjang di Indonesia, Jembatan itu adalah Suramadu yang memiliki rentang sepanjang 5.438 meter. Ini merupakan kali pertama aku menyebrang ke Madura lewat Suramadu dengan mengendarai sepeda motor.

Sesampainya di pulau garam, kembali kita memacu kuda besi yang kita kendarai masing-masing. Suasana agak berbeda jelas aku rasakan karena ini perjalananku yang pertama menuju kota paling timur di Madura. Sebelumnya aku hanya menjelajah sampai kota Bangkalan yang ada di ujung barat Pulau Madura.

Waktu menunjukkan jam 4 sore, kita putuskan untuk menepi di Masjid dekat alun-alun Sampang untuk Sholat Ashar dan istirahat. Langit saat itu mulai menghitam dan kita pun kembali melanjutkan perjalanan sesudah sholat dan istirahat. Saat di tengah perjalanan hujan kembali datang begitu cepat, aku dan Reza (yang saat itu membonceng Dhinda) memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menembus lebatnya hujan. Iqbal sat itu memutuskan untuk menepi memakai jas hujan. Sesuai dugaanku, hujan tadi hanya berlangsung sebentar. Langit masih mendung tapi hujan tak lagi datang. Aku memutuskan untuk mengisi bensin dan Reza tetap melaju di depan serta Iqbal masih tertinggal di belakang.

Saat aku selesai mengisi bensin, aku tak lagi mendapati empat orang tadi. Iqbal dan Reza pernah ke Sumenep sebelumnya walau hanya sekali, tapi aku belum pernah samasekali, jadilah aku dan fadly sedikit cemas karna tak tahu jalan ke sana🙂 Di sepanjang jalan, aku sering mendapati jalan yang berlubang dan bergelombang. Kota berikutnya yang aku lewati adalah Pamekasan.

Dari sini hal yang tak terduga terjadi, aku sempat mengambil rute bus untuk ke Sumenep hingga akhirnya aku putuskan untuk balik arah dan melewati Pusat Kota Pamekasan. Saat itu fadly lebih sering membantu tanya ke warga sekitar untuk menunjukkan arah ke Sumenep. Sempat dibuat binggung dan berputar-putar di pusat kota, aku dan fadly akhirnya menepi untuk memakai jas hujan karna sudah tidak memungkinkan lagi untuk menembus hujan yang sangat lebat. Waktu itu hari sudah mulai berganti senja, Adzan Maghrib pun mulai terdengar.

Setela selesai memakai jas hujan, kita berangkat menembus lebatnya hujan dan pekatnya malam. Terus melaju hingga akhirnya aku ragu, kita putuskan untuk kembali tanya ke warga sekitar. Saat aku mau mematikan mesin kendaraanku, saat itu juga aku baru menyadari bahwa kunci motorku terjatuh di tengah jalan. Aku jelas panik tak karuan, jauh dari mana-mana dan tujuan belum tahu lewat mana. Setelah Fadly selesai bertanya, kita putuskan untuk kembali menyusuri jalan guna menemukan kunci motor di kegelapan malam.

Alhamdulillah, kunci motor berhasil ditemukan di gelapnya warna aspal, mungkin terjatuh karna terkena guncangan di jalan bergelombang dan berlubang. Kita kembali melanjutkan perjalanan dengan kunci yang aku taruh di saku biar tak terjadi lagi kejadian seperti tadi. Mesin motor masih dalam keadaan nyala, walau tak ada kunci masih bisa buat jalan. Kita mengambil rute yang disarankan warga tadi. Sekarang yang dibonceng adalah aku, kendali motor dipegang oleh Fadly.

Sejauh ini kita melaju di jalan yang benar🙂 Sesampainya di Gerbang Sumenep Super Mantap, kita berhenti untuk berkomunikasi dengan Iqbal yang ternyata sudah menuju ke Kota Sumenep. Kita kembali melanjutkan perjalanan, saat itu aku kembali membonceng Fadly. Jarak yang ditempuh untuk ke pusat kota cukup jauh, sekitar 30 km dari gerbang tadi. Saat mendekati pusat kota, aku sempat ragu hingga aku putuskan untuk tanya alamat tempat acara (venue) ke Anggota Polisi yang sedang berjaga di Pos Penjagaan. Menariknya dia pun tidak tahu pasti alamat itu, polisi tadi menyarankan aku untuk menanyakan alamat itu ke orang-orang yang ada di daerah sebelum venue.

Beruntung, saat aku belok kanan di perempatan setelah Masjid Jami dan bertanya ke orang-orang sekitar, aku tak sengaja bertemu dengan Iqbal. Kita akhirnya tiba bareng ke venue sekitar jam 7 malam, setengah jam kemudian Reza dan Dhinda juga sampai ke tempat tujuan. Klik tulisan ini untuk membaca review kegiatan Tribute to Green Day yang berlangsung di Sumenep!

Tribute to GD Sumenep

Malam itu sungguh berkesan, walaupun tidak banyak yang datang tapi kita semua menikmatinya. Penampilan Do Da Da yang dipimpin Andi Tege pada gitar dan vokal sangat menakjubkan. Ada saat di mana aku berdiri terdiam liat penampilan Andi Tege saat menyanyikan lagu Brainstew dan berujar dalam hati “pasti nyesel yang ga dateng malam ini, ga bisa nonton kw-nya Billie Joe”🙂 Ya seperti itulah, aksi Bapak dua anak ini mengingatkanku akan penampilan khas Billie Joe (vokalis Green Day) saat berumur 20an, di mana saat membawakan Brainstew lompat berulang-ulang kali.

Malam itu selesai acara, kita rombongan dari Surabaya berencana langsung pulang, tapi setelah dipikirkan masak-masak akhirnya kita menerima tawaran untuk menginap di rumahnya Andi Tege. Kita semua tidur di studionya Andi Tege yang menjadi satu dengan bagian rumah. Aku sendiri tidur cuma sejam, bangun jam 3. Rencana mau pulang jam 4 tapi akhirnya mundur sampai pagi. Mulai dari jam 3 aku ngobrol dengan Fadly yang waktu itu tidak tidur di dalam studio.

Andi Tege yang semula ngobrol dengan teman-temannya di teras depan kemudian ikut bergabung ngobrol dengan kita di dalam studio, ditemani Heru (Ketua Pop Disaster Commite) dan juga Reza. Obrolan yang dibahas seputar Green Day dan Idiot Club. Andi Tege dan Heru pun begadang sampai pagi menemani kita ngobrol.

Minggu itu, mentari telah bersinar di Madura. Sebelum pulang ke Surabaya, kita di traktir sarapan di pasar minggu alun-alun kota Sumenep. Setelah selesai urusan baru kita pamitan dan pulang ke Kota Pahlawan. Perjalanan pulang kita tidak berbarengan karena Iqbal mau ke rumah omnya dulu yang ada di kota itu, kemudian aku menemani Fadly kondangan ke temannya di Sampang. Cuma Reza dan Dhinda yang langsung menuju ke Surabaya.

Singkat cerita setelah sampai di Kota Sampang, aku dan Fadly langsung menuju daerah yang dituju. Jalan ke sana cukup ekstrim, setelah melewati jalan beraspal kita melaju di jalan berpasir dan berbatu serta agak basah bekas hujan tadi malam. Kita berkendara naik turun bukit, hingga akhirnya masuk ke pelosok yang mayoritas di sekitarnya hutan. Sepeda motor bebek yang aku pakai saat itu tak ubahnya sepeda motor trail yang melewati medan yang sangat terjal. Pada akhirnya alamat sudah ditemukan tapi kita harus melewati jalan setapak yang dibuat bertangga. Sejenak aku berpikir “ini jalan untuk manusia bukan motor”, tapi kepalang tanggung, sudah tidak ada jalan lagi, aku paksakan buat menaiki jalan itu.

Sesampainya di rumah yang punya hajat, kita diterima dengan baik. Ada kejadian menarik, saat orangtua temannya Fadly itu bicara dengan kita pakai bahasa jawa (ngoko alus). Menjadi menarik karena ini di daerah pelosok Madura yang mayoritas warga sekitar kental berdialek bahasa lokal. Tidak berselang lama, kita pamit untuk langsung pulang ke Surabaya. Kondisi jalan yang dilewati hampir sama dengan yang tadi, tapi kita kali ini mengambil rute yang berbeda.

Jalan itu berujung di sekitaran Blega, kita terus meninggalkan Sampang untuk melaju ke Surabaya. Arah jarum bensin sudah menunjukkan tanda sekarat, kita melewati 3 pom bensin dengan hasil nihil. Bensin tak kunjung didapat, hingga akhirnya kita sampai di jalan lurus arah ke Suramadu. Tanpa berkeinginan buat dorong motor, aku isi tangki dengan bensin se-liter yang dijual di pinggir jalan. Selesai dari kecemasan, langsung melaju kencang untuk pulang ke kota kelahiran, Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s