Satu Nusa Satu Bangsa, satu nusa saling mangsa… (Luka Indonesia-Superman is Dead)

Jadi ingat lagu itu setiap aku nonton tv di pagi dan malam hari, lho kok bisa??? Yang aku tonton masih serupa, yaitu tayangan superheboh dan lebih dramatis ketimbang sinetron. Kasus korupsi dan perang konspirasi masih merajai rating tv saat ini -Cicak lawan buaya- Ahh…kalau menurutku lebih banyak lagi primata atau biawak yang berteman akrab dengan si buaya. Apa lagi ada seseorang yang tidak merasa berhak menjadi pawang karena dianggap terlalu otoriter, lancang, campur tangan atau apalah namanya. Yang jelas ada oknum yang tetap diam pada tampilan luar, tetapi di dalamnya memasang senyum lebar melihat sosok permasalahan sekitar yang tidak sengaja membuatnya bahagia.

Serba pusing untuk memilih siapa yang paling benar diantara yang (mengaku) benar? Jawabanya sampai sekarang tersimpan rapi dalam dokumen kebatinan seseorang dengan kunci nurani yang berkode ego nan acuh tak acuh dari kotornya kubangan muka norma hukum Indonesia. Tak jelas keberpihakan, pembentukan opini dengan sanggahan pribadi yang didominasi persetujuan bawah tangan marak terjadi. Konfrontasi sudah dimulai, masa kelam 98’ masih menghantui dalam seluk beluk rongga bayangan. Aku mulai bosan dengan permainan lidah yang itu-itu saja, tidak ada selembar kejujuran yang mampu memenuhi goresan tinta kesucian hati dari setiap daging yang bertulang.

Aku mulai berpikir tentang kekuatan rakyat (people power) yang mampu merobohkan sebuah sistem kenegaraan pada dahulu kala. Akankah ini terjadi lagi pada ruang lingkup yang terbatas ini? Seolah segan dan tak mau mengerti, mereka hanya bertindak sendiri tanpa kompromi. Mungkin aku tidak begitu mengerti masalah ini, tapi aku hanya berharap bahwa keadilan dan kejujuran yang akan keluar sebagai pemenangnya nanti. Kulihat acara rapat DPR/MPR yang disiarkan langsung di tv membahas tentang masalah yang seakan takberujung ini, tak begitu banyak kumengerti, tapi setidaknya mereka yang ada di sana menunjukkan kinerjanya dan pajak yang dikeluarkan oleh keluargaku dan juga puluhan juta rakyat Indonesia lainnya tidak menjadi sia-sia atau malahan masuk ke kantong pribadi.

Tidak ada gambaran lain yang mampu menjelaskan sebab runtuhnya kepercayaan moral suatu pejabat dalam bingkai kemunafikan yang tertontonkan oleh rakyat yang selalu saja terbodohi oleh keadaan yang telah diciptakan. Malu besar ku melihat film misteri penuh teka-teki ini, dengan jiwa yang bebas ingin sekali ku berteriak lantang seperti “Berikan aku contoh sepuluh lagi yang seperti ini, maka akan kuguncang dunia..!” he..he..he…’ Lha kok beda dengan pernyataan Bung Karno yang asli, maaf tadi hanya canda tawa saja.!

Aku tahu siapa sebenarnya diriku ini, aku hanyalah manusia yang berdiri di persimpangan tanpa mengetahui jalan mana yang benar. Secuil harapan masih tersisa pada reruntuhan asa yang sudah lapuk dimakan rayap berseragam. Inilah yang bisa aku jadikan sebuah tanggung jawab bagi pembangunan negeri tercintaku ini kedepannya. Jangan sampai mereka untuk kedua kalinya atau keberapa puluh kalinya membuat akalku dapat dilintasi oleh kata “Negara yang tak dapat dibanggakan.” Sudah saatnya kita tidak menunggu untuk bisa dibanggakan oleh negara, tapi kebanggaan untuk negara harus kita peroleh dengan tangan, kaki, dan pikiran kita sendiri.

cicak-vs-buaya

MERDEKA !!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s