KABINET BALAS BUDI

Tahapan pemilu eksekutif telah berakhir dengan menyisakan keraguan pada berbagai pihak. Setelah mengalami sengketa putusan yang rumit dan seolah tak berujung, kini kita dihadapkan pada suatu momentum sakral demi terwujudnya kesejahteraan bangsa Indonesia. Penentuan siapakah yang berkualitas untuk berhak duduk di kursi kabinet selama periode 2009-2014 akan terjawab sebulan lagi. Hanya hak preogratif presiden yang bisa menentukan akan berbentuk apa kabinet Indonesia mendatang?

Kekusaan penuh seperti ini sangat dimanfaatkan oleh beberapa parpol koalisi yang tergabung dalam tim kampanye SBY-Boediono untuk mendapatkan jatah kursi di kabinet. Dengan rupa balas budi atau bermajas utang politik, mereka (koalisi SBY) berupaya keras memberikan intervensi secara halus dengan maksud keuntungan bagi golongan tertentu yang terselubung dalam perwakilannya di kabinet. Kalaupun tidak bermaksud demikian, sedikit kemungkinan mereka akan membawa Indonesia ke strata sejahtera yang berkelanjutan.

Sejalan pemikiran rasional saat ini, keributan tidak hanya melanda parpol koalisi SBY-Boediono saja, tetapi sudah merambat perlahan pada dua parpol besar saingan SBY pada pemilu sebelumnya. Seperti halnya golkar yang telah memendam bara konflik demi terwujudnya sumbangsih nyata dari wakil golongan beringin tersebut, PDIP juga melakukan hal yang sama walau terkesan malu-malu kucing. Kebanyakan parpol mengutamakan lobi politik demi kesuksesan pencalonan wakil dari golongannya dibandingkan kualitas calon SDM itu sendiri yang akan menduduki kursi kabinet.

Sudah sewajarnya presiden jadi pusat perhatian perjalanan sejarah politik suatu negara. Di zaman orde reformasi yang terlanjur bablas ini, presiden diharapkan mampu untuk menghadirkan bentuk kabinet yang mampu mewakili kehendak rakyat dalam terwujudnya kesejahtera, juga secara luas dapat pula tercapai tujuan nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Tanggung jawab superbesar bagi sosok pemimpin untuk menentukan hembusan demokrasi melaju kencang ke arah hinaan kejam atau senyum kepuasan.

Mungkin yang terpenting untuk kita pikirkan saat ini adalah bagaimana efek setelah SBY menetapkan susunan kabinet periode 2009-2014? Ada wacana tentang pembentukan kabinet yang akan diisi oleh mayoritas SDM nonparpol, bagaimana jika ini benar-benar terjadi? Dan bagaimana sikap parpol yang ikut andil dalam pemenangan SBY-Boediono? Merasa terkhianati atau menerima dengan lapang dada keputusan tersebut? Semua tergantung keadaan pada hari-H dan kedewasaan dalam menyikapinya.

Akankah sikap skeptis golongan putih terjawab dengan terbentuknya kabinet baru ini? Mungkin jawaban ini terkesan mendahului, tapi inilah faktor yang tidak luput untuk dijadikan kriteria dalam pembentukan kabinet yang akan datang. Kita jangan sampai terkontaminasi hiruk pikuk penjual suara untuk bangsa yang hanya memberi sedikit aksi demi negara. Semua hasil kembali ke rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s