TIDAK ADA KEBENARAN HAKIKI DI DUNIA INI !!!

      Indonesia terbentuk dari berbagai macam buah pikir atau ideologi tiap individu yang kemudian berkembang membentuk kelompok. Mulai dari kelompok nasionalis, agamis, hingga sosialis. Semua saling mengisi dalam rongga-rongga yang merenggang di sebuah bangunan yang bernama Indonesia. Menurut survey BPS (Badan Pusat Statistik) dari hasil sensus penduduk terakhir diketahui bahwa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Ini merupakan hiasan wajah negeri yang begitu menarik untuk dilihat. Bagaimana keragaman menjadi pedoman utama dalam berbangsa dan bernegara. Keheterogenan kelompok tersebut juga menjadi alat untuk membentuk country image di mata dunia. Begitu pula dengan kelompok yang menaungi satu atau beberapa suku bangsa di dalamnya, ini merupakan sistem kehidupan yang kompleks di mana negara digunakan sebagai pijakan atas berbagai alasan yang terjadi di dunia.

 

      Dengan keberagaman tersebut tidak menutup kemungkinan untuk konflik muncul di tengah-tengahnya tanpa ada yang menduga. Konflik bagai kerikil kecil tajam yang bisa dengan mudah melukai talapak kaki. Darah nasionalis keluar dari telapak kaki negeri ini dan tidak mengaliri sistem kehidupan tubuh sebagaimana mestinya. Bekas luka tidak terhindarkan lagi untuk muncul dan mengganggu estetika, bahkan jiwa harus dikorbankan untuk mempertahankan agar luka tersebut tidak memperparah keadaan bagi keseluruhan tubuh negara. Indonesia merupakan kesatuan dari berbagai aliran ideologi kelompok yang harus dijaga kesehatannya layaknya tubuh manusia. Jika ada salah satu sistem yang terganggu maka itu akan terasa ke seluruh anggota tubuh, tanpa terkecuali. Waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka tidak singkat dan biaya yang keluar juga tidak sedikit.

      Indonesia terus meluka sampai saat ini, konflik dapat timbul dari berbagai alasan dan kepentingan. Selalu ada aktor intelektual yang mulai memanaskan konflik. Bagaimana seorang individu mempengaruhi pikiran orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Akan sangat sensitif jika konflik dilatarbelakangi oleh persoalan suku bangsa, ras, ataupun agama. Konflik juga berlaku bagi kelompok yang saling unjuk gigi demi harga diri dan kepentingan pribadi. Kelompok politik misalnya, harus berupaya sedemikian rupa untuk meraup suara konstituen sebanyak-banyaknya demi kemenangan. Jadi setelah menang agak sulit untuk mengabdikan diri pada negeri karena tujuan utama sudah tercapai, yaitu sebuah kemenangan. Demikian juga dengan kelompok separatis dan teroris, mereka sangat menjunjung tinggi ideologi yang mereka anggap sudah benar dan memakainya untuk beraksi.

      Banyak darah yang tumpah membanjiri bumi pertiwi hanya untuk memperebutkan akar kebenaran yang sebetulnya bukan kebenaran hakiki. Kebenaran yang dipakai untuk menghalalkan kehidupan manusia di dunia. Jadi banyak manusia yang saling berkorban nyawa demi meperoleh pengakuan “benar” tanpa memperhatikan alasan “benar” dari pihak lain. Benar menurut orang lain bukan berarti benar menurut diri sendiri. Tanpa kajian yang jelas, kebenaran seakan dengan mudah dapat diakui oleh seseorang atau kelompok untuk membenarkan tindakannya di dunia ini. Spekulasi semacam ini yang mengakibatkan kedewasaan dalam berpikir mundur sangat jauh dalam berkehidupan sosial. Mereka yang saling bertikai telah melebihi batas untuk alasan benar, hingga benar itu harus hakiki baginya. Mereka tidak ingat bahwa kebenaran bersifat kompleks yang dapat digunakan oleh semua orang yang membutuhkannya. Sikap individualis seperti ini yang mengancurkan image kebenaran itu sendiri, memandang lurus kedepan tanpa menoleh samping kanan dan kiri.

       Dibutuhkan lebih dari sekedar toleransi untuk saling memahami arti kebenaran pribadi masing-masing. Kebenaran yang dapat menyulut konflik perlu diredam dengan sikap dewasa dan berpikir positif. Emosi dapat dengan mudah terbakar, tapi berpikir rasional adalah sumber air yang sulit dicari untuk memadamkan amarah tersebut. Fanatik yang berlebihan membuat membuat seseorang atau kelompok menjadi buta akan makna kebenaran yang sejatinya diperuntukkan bagi setiap manusia. Membuka pola pikir untuk menempatkan kebenaran pada tempatnya dan tidak disalahgunakan. Dengan berbagai macam kelompok yang ada di Indonesia, pencarian atau penerapan kebenaran harus diwujudkan dengan fleksibel dan memperhatikan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Memberikan kebenaran yang paling benar di atas kebenaran yang lain merupakan cara jitu untuk mengurai benang kusut sebuah konflik. Kebenaran tersebut harus dibuktikan dan kadar benarnya harus lebih tinggi dari yang lain, dengan demikian kajian tentang kebenaran hanya berlangsung sengit di pemikiran kedua belah pihak yang bertikai tanpa harus melukai fisik salah satunya.

      Mediasi tidak begitu berpengaruh besar jika kedua orang atau kelompok yang saling memperebutkan kebenaran tidak berkomitmen pada kesepatan yang telah terbentuk. Konflik ini telah memantik lebih besar lagi rasa “benar” pada diri seseorang untuk menyalahkan orang lain. Akar dari semua permasalahan adalah kebenaran individu atau kelompok yang terjajah dengan kebenaran yang dibawa oleh pihak lain. Seperti halnya kaum zionis yang mengklaim diri mereka benar dan berhak atas tanah yang telah dijanjikan Tuhan kepada mereka, walaupun diraih dengan cara kekerasan dan berasal dari sumber yang bisa diperdebatkan. Itulah sebabnya mengapa kebenaran harus dibuktikan, bersifat nyata, dan tegas tanpa ada yang bisa mendebatnya. Kebenaran yang dikejar oleh manusia hanya berlaku untuk kehidupan di dunia saja, sedangkan kebenaran hakiki milik Allah SWT berlaku di dunia dan akhirat serta tidak bisa diperdebatkan. Kebenaran hakiki tersebut juga digunakan sebagai penilaian manusia dan bentuk pertanggungjawaban atas segala tingkah lakunya selama di dunia.

      Kebenaran merupakan alasan mulia yang dipakai untuk membenarkan segala tindak kesalahan dan berlaku sebagai norma. Manusia dapat menciptakan kebenaran menurut versi mereka sendiri, tapi kebenaran yang mutlak atau hakiki hanya dimiliki oleh Allah SWT. Saling mengklaim benar di mata manusia belum tentu benar di mata Tuhan Sang Pencipta. Hukum merupakan alat untuk mengatur kehidupan manusia secara personal dan kelompok yang berpedoman pada kebenaran akan nilai luhur pribadi bangsa. Kebenaran berbanding lurus dengan keadilan, dengan keadilan ini kebenaran pihak tertentu dapat dibuktikan oleh lembaga pengadilan yang ditugaskan negara sebagai pengadil di antara mereka yang saling berkonflik memperebutkan kebenaran. Sebagai contoh hingga pertengahan tahun 2010 ini, total mereka yang mencari keadilan dalam lingkup politik daerah di MK (Mahkamah Konstitusi) mencapai 74 kasus. Dari jumlah tersebut sangat memungkinkan untuk terjadinya gesekan antar kepentingan yang bermain di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa untuk membuktikan kebenaran memerlukan biaya yang tinggi dan sedikit urat penegas, jika tidak dikontrol maka olah otot pun tidak bisa dihindari.

      Dari keadilan tersebulah kebenaran bisa dipaksakan kepada setiap orang dengan menggunakan sebutan hukum. Sangat rawan sekali apabila hukum yang mempunyai peran penting ini dipermainkan oleh perwakilan rakyat yang mempunyai tugas untuk membuat aturan hukum. Indonesia dikenal juga sebagai negara hukum yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Hukum buatan manusia ini yang banyak dikeluhkan oleh sebagian masyarakat. Tanpa mengurangi rasa lelah para pembuat aturan hukum, hanya beberapa yang mampu terselesaikan dari terget semula dan itupun tidak sedikit yang mengalami revisi dikarenakan pemikiran kritis masyarakat Indonesia. Terbukti dari target 269 rancangan undang-undang (RUU), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode periode 2004-2009 hanya mampu menyelesaikan 193 RUU dengan 11 UU Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan 58 UU mengenai pemekaran. Hal serupa bisa saja terulang pada DPR periode 2010-2014 yang menetapkan target menyelesaikan 247 RUU dan 55 RUU Prioritas.

      Hukum karya manusia menampilakan kebenaran untuk memperoleh keadilan, tapi sampai saat ini hukum tersebut saling tanding untuk memenangkan perkara di meja hijau. Aturan yang satu mempunyai daya untuk memberatkan dan aturan yang lain dapat meringankan dakwaan seorang pesakitan. Berbagai aturan tersebut dapat digunakan secara bersamaan hingga akhirnya mengaburkan keadilan. Beda lagi dengan aturan yang belum sempurna, aturan ini mempunyai celah untuk dimanfaatkan oleh orang yang berkepentingan di dalamnya. Ada contoh dimana seorang calon walikota yang kini menjadi walikota terpilih Surabaya secara terbuka menjanjikan pada konstituennya untuk menyelesaikan masalah “Surat Ijo” dengan memanfaatkan celah hukum yang ada. Ini merupakan bentuk penghinaan terhadap hukum yang berlaku di Indonesia, bukti bahwa hukum dibuat belum sempurna dan dari ketidaksempurnaan itu ada segelintir orang yang memanfaatkannya. Belum lagi ada skandal suap yang menerpa DPR dalam hal pembuatan (pemesanan) UU agar menguntungkan sebagian pihak. Keadaan ini juga diperparah dengan laporan Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyatakan bahwa terdapat 79 UU di DPR yang proses pembuatannya dikonsep oleh konsultan asing. Gambaran ini menunjukkan betapa keruhnya kebenaran yang berwujud hukum di Indonesia.

     Kebenaran dalam kehidupan dunia ini memang rumit untuk menemui jalan tengah. Kehidupan sosial dan hukum salah satu contoh nyata di mana keberadaan suatu pembenar dibutuhkan di dalamnya. Kebenaran bisa saja dimiliki oleh orang yang mempunyai hasrat tinggi, meskipun dengan proses pencapaian yang salah. Tidak ubahnya seperti gelar, pangkat, atau jabatan yang hanya menampilkan sisi luar semata. Diperebutkan hingga esensi kebenaran yang sejati tertutup atau sengaja ditutupi melalui mekanisme yang terjadi. Dengan keadaan seperti ini sebagian besar yang menjadi korban adalah individu atau kelompok minoritas yang memiliki kebenaran, tapi tertutupi oleh keadaan dan ketidakmampuan. Banyak sekali gambaran akan peristiwa tersebut di negeri ini, bahkan sampai orang yang seharusnya tidak bersalah malah jadi tersangka dan mendapatkan hukuman atas keputusan hakim tersebut. Seperti yang dialami oleh Prita Mulyasari menggenai keluhan terhadap pelayanan RS Omni yang berbuah hukuman penjara selama 6 bulan, sebelumnya ibu dua anak ini telah menjalani hidup di balik jeruji besi selama 21 hari atas kasus tersebut.

      Mereka yang saling berteriak mulai dari ruang pengadilan, jalanan, hingga gedung dewan mencari dan memperebutkan kebenaran hingga tanpa sadar seperti menyentuh kebenaran hakiki yang hanya dimiliki oleh Sang Pengadil. Indonesia merdeka dengan keberagaman kelompok yang mempunyai tujuan dan pembenar untuk memerdekakan diri dari segala bentuk penjajahan. Sudah selayaknya cara untuk hidup dalam perbedaan tidak diperuncing dengan menyombongkan kebenaran yang dapat menimbulkan masalah baru. Menahan diri dan lebih berpikir rasional adalah tindakan awal yang dapat dilakukan oleh setiap pribadi. Untuk sementara penyampaian kebenaran di dunia ini tidak bisa dipukul rata, keheterogenan kelompok dalam suatu negara menjadi faktor utama dalam pertimbangan kebijakan publik. Mencoba menikmati indahnya kebersamaan dalam segala perbedaan yang ada akan lebih berguna dalam menyehatkan pikiran dan badan.

3 thoughts on “TIDAK ADA KEBENARAN HAKIKI DI DUNIA INI !!!

  1. Kebenaran Hakiki hanya milik TUHAN YME, sedangkan “kebenaran” versi manusia adalah kebenaran duniawi (siapa yang berkuasa, dia yang benar) yang bersifat nisbi atau relatif yang mana akan termakan jaman / peradaban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s