Posted in Music | Tagged Artikel, Green Day, Music | Leave a Comment »
Si raksasa media cetak dari Surabaya ini beberapa minggu yang lalu mengeluarkan berita tentang pemasangan bendera parpol dan juga media iklan yang terpasang di pohon sepanjang jalur hijau atau ruang terbuka hijau. Terhitung hampir sepekan koran nasional tersebut memiliki perhatian terhadap fenomena ini dan memberikan pemberitaan di halaman Metropolis. Di halaman tersebut, Jawa Pos dengan gencar memperlihatkan kepada para pembaca bahwa pemasangan bendera atau materi iklan di pohon dengan cara diikat maupun dipaku merupakan perbuatan yang dilarang. Tidak hanya itu, koran yang bermarkas di Graha Pena jalan A.Yani ini juga meminta pandangan kepada seorang aktivis lingkungan untuk menunjang pemberitaan tersebut. Aktivis tersebut mengatakan bahwa kegiatan seperti itu (pemasangan bendera atau materi iklan di pohon) merusakan pandangan mata.
Posted in My Words | Tagged Iklan, Jawa Pos, Koran, Pohon | Leave a Comment »
DEFINISI MULTIPLIER
Multiplier atau angka pengganda adalah hubungan kausal antara variabel tertentu dengan variabel pendapatan nasional. Jika angka pengganda tersebut mempunyai angka yang tinggi, maka perubahan yang terjadi pada variabel tersebut akan mempengaruhi terhadap tingkat pendapatan nasional juga besar dan sebalikanya. Perubahan pendapatan nasional itu ditunjukan oleh suatu angka pelipat yang disebut dengan koefisien multiplier.
Multiplier (Pengganda), Keynes mendefinisikan Multiplier sebagai “Rasio pasti antara pendapatan dan investasi serta, subyek penyederhanaan tertentu, antara jumlah pekerjaan dan tenaga kerja yang dipekerjakan pada investasi langsung…”. Angka pengganda menggambarkan perbandingan diantara jumlah pertambahan atau pengurangan dalam pendapatan nasional dengan jumlah pertambahan atau pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan perubahan dalam pendapatan nasional.
Multiplier adalah angka pengganda dari suatu variabel untuk menghasilkan besarnya perubahan variabel pendapatan nasional (permintaan agregat).
Selengkapnya bisa diunduh di sini!
Posted in Economy | Tagged Ekonomi, Multiplier, Pengganda | Leave a Comment »
Aku kembali merekam ingatan ku akan hari Kamis tanggal 24 Maret 2011, di saat acara Never Too Loud (NTL) Mustang 88fm Tribute To Green Day di Tee Box cafe jalan Wijaya 2 no. 123, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Beberapa hari sebelumnya selama bulan maret aku mengikuti acara NTL melalui live streaming, sejak saat itu sudah ada niatan untuk bertandang ke Ibu Kota.
Oh ya.. satu lagi, aku punya -bisa dibilang- nazar, kalau tidak akan menginjakkan kaki ke Jakarta untuk nonton konser sebelum atau saat Green Day konser di Indonesia. Tapi untuk acara yang satu ini punya perkecualian, walaupun bukan Green Day yang main, tapi acara ini dipersembahkan untuk Green Day & fans Green Day (Idiot Club) seluruh Indonesia. Jadi ada benang merahnya di sini, tekad sudah bulat untuk menghadiri acara tersebut. (thanx buat Hoeda udah ngingetin, hehe…). Sekaligus perjalanan ini sebagai persiapan agar waktu lihat konser Green Day nanti sudah tidak gagap dengan kondisi Jakarta.
Posted in Music | Tagged Green Day, Idiot Club, Indonesia, musik, Tribute | Leave a Comment »
Indonesia terbentuk dari berbagai macam buah pikir atau ideologi tiap individu yang kemudian berkembang membentuk kelompok. Mulai dari kelompok nasionalis, agamis, hingga sosialis. Semua saling mengisi dalam rongga-rongga yang merenggang di sebuah bangunan yang bernama Indonesia. Menurut survey BPS (Badan Pusat Statistik) dari hasil sensus penduduk terakhir diketahui bahwa Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Ini merupakan hiasan wajah negeri yang begitu menarik untuk dilihat. Bagaimana keragaman menjadi pedoman utama dalam berbangsa dan bernegara. Keheterogenan kelompok tersebut juga menjadi alat untuk membentuk country image di mata dunia. Begitu pula dengan kelompok yang menaungi satu atau beberapa suku bangsa di dalamnya, ini merupakan sistem kehidupan yang kompleks di mana negara digunakan sebagai pijakan atas berbagai alasan yang terjadi di dunia.
Posted in My Words | Tagged budaya, hukum, ideologi, Indonesia, politik | 3 Comments »
Musik punk identik dengan tempo yang meninggi dan beat yang khas. Dengan irama seperti itu tidak bisa dipungkiri lagi untuk tidak melakukan gerakan yang selaras memacu emosi sesaat. Menyalurkan semua gejolak yang tertahan dalam diri bersamaan dengan alunan musik menjadi rasa tersendiri bagi penikmatnya. Moshing, pogo, atau slam dance merupakan salah satu gerakan yang dimaksud, tentu dengan niat tidak untuk melukai.
Inilah timbal balik dari arus musik yang begitu deras menghantam gendang telinga hingga mampu menjebolkan pikiran agar bertindak sedikit desktruktif dalam mencapai tahap D.I.Y (Do It Yourself). Tindakan membuang amarah yang cerdas jika dibarengi dengan niat menyenangkan diri sendiri, terlebih orang lain yang berada disekitar agar tidak timbul konflik. Continue Reading »
Posted in Music | Tagged Hiburan, ideologi, musik, Opini, Punk, Selera | 2 Comments »
Banyak alasan yang menimbulkan panggilan hati dari para mahasiswa untuk melakukan aksi turun ke jalan. Salah satunya yang paling intens belakangan ini adalah perkembangan kasus skandal Century. Merasa geram, gelisah, dan kecewa atas penanganan kasus tersebut membuat sketsa tentang seberapa besar potensi kekisruhan yang terjadi dalam aksi jalanan. Seakan memuncak tanpa berpikir sebagaimana yang melekat dalam diri mahasiswa, gesekan sedikit dan dorongan invisible hand semakin mempejelas esensi street parliament yang sejalan dengan “kehidupan jalanan”. Tak beda dengan yang dijalan, para wakil rakyat yang terhormat juga melakukan perilaku yang keluar dari norma persidangan. Continue Reading »
Posted in My Words | Tagged anarkis, demonstrasi, DPR, ideologi, Konspirasi, mahasiswa, ricuh | 2 Comments »
Bermula dari rasa gusar yang mampir di otak setelah terlibat percakapan singkat secara tidak langsung dengan anak punk yang berasal dari Jakarta. Dia biasa hidup di jalanan di beberapa kota di Indonesia, hingga kali ini dia bertandang ke Surabaya. Sudah tiga bulan ini dia hidup di Surabaya -Kota terbesar kedua di Indonesaia-, sebelumnya dia merantau ke Kaltim dan menetap agak lama juga di Malang bersama temanya. Terlihat seperti punker pada umumnya, dengan baju hitam yang terlihat kumal, celana pensil warna hitam, sepatu boot, percing dan tindik di beberapa bagian tubuh, serta yang tidak kalah pentingnya adalah kreasi jarum dan tinta di kulit berwarna –ambil sedikit kutipan dari liriknya SID, ga masalah kan..???- a.k.a Tato yang mulai pudar warnanya tergores debu jaman. Bagi orang awam ini mungkin agak mengerikan untuk dilihat, tapi fashion itu berbeda terbalik dengan pandangan orang tersebut jika sudah mengetahui beberapa perilaku yang ditampilkan secara tersembunyi. Bukan maksud membanggakan secara berlebihan tentang anak punk, tapi ada dari beberapa punkers yang mempunyai tabiat yang tidak pantas untuk ditiru (hehehe…. nulisnya masih pake akal sehat rupanya!!!) karena berbagai alasan, kalau untuk penilaian yang satu ini terserah bagaimana baiknya anda menyikapi. Itulah sekilas tentang sosok anak Punk Jalanan (bukan sekedar lagu akustik yang dirubah jadi dangdut koplo jingkrak) yang masih melekat secara identik di jaman yang terus maju mengikuti pasar.
Posted in My World | Tagged ideologi, Konspirasi, Punk | 2 Comments »
Bermula dari pergerakan mahasiswa tahun 1998 yang menginginkan reformasi total di segala aspek kehidupan bernegara. Mulai dari tahun 1998 sampai sekarang Indonesia menjadi negara yang demokratis dan tidak terpaku secara penuh oleh kekuasaan satu orang saja, yaitu Presiden. Kekuasaan pusat untuk mengatur keberadaan lembaga-lembaga negara dibatasi agar seakan-akan tidak membentuk warna Orde Baru pada kanvas Orde Reformasi saat ini. Tidak terkecuali kontrol terhadap penegak hukum seperti Polri dan Kejaksaan yang dirasa tidak dapat penuh dan hanya berupa dorongan kata tanpa daya memaksa.
Posted in My Words | Tagged hukum, Konspirasi, politik | 2 Comments »
Mungkin pertanyaan mendasar ini banyak bermunculan di benak sebagian orang ketika aku mempunyai pandangan yang dapat mengisi sebagian besar kotak musikku dengan dentuman kencang ciri khas punk. Walaupun tidak bergaya selakyaknya anak punk, aku tetaplah menyimpan jiwa punk yang sampai saat ini masih aku gali dan aku saring sesuai adat istiadat budaya timur tanpa ada paksaan untuk menelan mentah-mentah budaya asli punk yang berasal dari barat, khususnya negara Inggris. Musik dan ideologi dalam punk saling berkaitan, didahului oleh ideologi (pemikiran) dari manusia yang menginginkan rasa kebebasan dari segala bentuk penindasan, seiring dengan kejenuhan untuk berpikir, maka mereka (kaum punk) lebih realistis dalam bentuk penyampaiaan ideologinya, salah satunya yang memungkinkan pada waktu itu adalah melalui jalur musik. Musik yang dihasilkan bertempo cepat dan penuh semangat agar emosi dari jiwa tertindas mereka terlepas keluar dan tidak merugikan orang lain (itulah yang menjadi cikal bakal moshing dan pogo). Itulah sekilas pandanganku tentang punk yang selama ini masih menjadi antibodi dalam tubuh agar aku selalu berpikir positif untuk menghadapi segala hal.
Posted in My World | Tagged ideologi, musik, Punk | Leave a Comment »








